Adi Santoso; Ilmuwan Bioteknologi yang Peserta Diskusi dengan Bush
Idealnya, Dana Riset Dua Persen APBN
Hanya segelintir pakar sains dan teknologi di Indonesia yang menekuni ilmu bioteknologi. Salah seorang ilmuwan yang sedikit itu adalah Adi Santoso, kini bekerja di LIPI. Salah satu bukti kepakarannya, dia menjadi tamu diskusi Presiden AS George W. Bush saat berkunjung ke Bogor.
Apa yang Anda sampaikan saat berdiskusi dengan Bush?
Dalam pertemuan tersebut, saya menyampaikan pentingnya kebutuhan akan pengembangan bioteknologi. Saya waktu itu menyampaikan bioteknologi adalah masa depan umat manusia. Tidak hanya di Indonesia, namun telah menjadi kebutuhan seluruh dunia.
Yang Anda tawarkan kepada Presiden AS itu?
Begini, pengembangan bioteknologi belum merata di seluruh dunia. Masih banyak kendala yang dihadapi, terutama oleh negara-negara berkembang. Image yang terjadi, hasil penemuan ilmu bioteknologi milik perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju seperti Amerika. Hal itu disebabkan hasil penelitiannya yang kemudian dipatenkan sehingga kita tidak bisa menggunakan, kecuali dengan lisensi. Padahal, kita juga melakukan penelitian. Itu tidak fair. Hal itu tidak hanya pada perusahaan Amerika, namun juga beberapa perusahaan di Eropa.
Seharusnya negara-negara di dunia saling bekerja sama untuk pengembangan bioteknologi. Kepada Bush, saya mengharapkan ada kerja sama dalam hal riset collaboration. Bentuknya, antara lain, pertukaran peneliti, akses informasi untuk peneliti, dan scholarship.
Oh ya, bagaimana asal Anda masuk list tokoh yang bertemu dengan Bush?
Waktu itu saya diberi tahu Pak Umar (kepala LIPI Umar Anggara Jenie, Red) untuk bertemu dengan Bush. Saya juga di-SMS langsung oleh Pak Kusmayanto (Menristek, Red). Saya sangat kaget dengan undangan yang sangat mendadak itu.
Di Indonesia, riset bioteknologi itu belum terlalu banyak terdengar. Bagaimana sebenarnya?
Bioteknologi boleh jadi belum banyak diketahui masyarakat, terutama di Indonesia. Padahal, pemanfaatannya bisa menjadi salah satu solusi berbagai permasalahan sosial kemanusiaan yang saat ini banyak berkembang. Di antaranya masalah pangan, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa negara, seperti Korea Selatan, Kuba, dan Mesir, bahkan telah mampu menghasilkan produk-produk bioteknologi untuk mengatasi masalah tersebut.
Wajar saja jika bioteknologi belum banyak dikenal. Di Indonesia baru dimulai 1988-an. Waktu itu Pak Habibie (B.J. Habibie saat menjabat menteri riset dan teknologi/ketua BPPT) mengirimkan banyak peneliti ke luar negeri. Salah satu di antaranya saya. Saat itu Pak Habibie memiliki dua mimpi yang ingin dikembangkan, yaitu science dan teknologi.
Pengiriman tersebut dilakukan pada semua bidang ilmu dan ke banyak negara dengan program OFP (Overseas Fellowship Program). Dan, bioteknologi menjadi salah satu di antaranya karena waktu itu bioteknologi sedang dikembangkan menjadi genetic engineering.
Apa yang membuat Anda tertarik dengan ilmu ini?
Ini merupakan salah satu ilmu masa depan. Penemuan paling fenomenal adalah struktur DNA. Dengan bioteknologi, misalnya, kita bisa mengembangkan model baru obat-obatan. Dan, yang penting adalah bioteknologi bisa meningkatkan kualitas hidup manusia.
Bioteknologi juga berhasil membuka misteri kehidupan (open the secret of life). Bioteknologi membawa kita berpikir kehidupan pada tingkat yang lebih dalam, yaitu tingkat molekul.
Pengembangannya pun akan lebih variatif bila ditunjang dengan banyak sumber daya yang dimiliki. Karena itu, sekembali dari Amerika pada 2003, saya tetap berkecimpung dengan dunia penelitian bioteknologi di LIPI. Indonesia punya banyak sumber daya alam yang beragam. Biodiversitas itu yang harus kita manfaatkan untuk menghasilkan obat-obatan dengan basis Indonesia.
(Dengan bekal S-1 di Fakultas Ilmu Hewan Universitas Brawijaya Malang, Adi melanjutkan di North Dakota State University, Fargo, ND, dengan konsentrasi Animal Science, Department of Animal and Range Sciences. Pengetahuannya tentang bioteknologi pun bertambah dengan melanjutkan S-3 di Department of Biochemistry and Molecular Biology pada universitas yang sama.
Lama tinggal di AS membuat dia berpikir tentang kemanusiaan. Banyak problem yang sebenarnya dihadapi umat manusia. Berawal dari situlah, Adi melakukan banyak penelitian untuk mengembangkan bioteknologi. Adi yang bersama 10 orang dalam timnya sedang menyelesaikan pengembangan obat antianemia. Obat tersebut telah masuk pada tahap uji coba dan segera diajukan ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan).
Sejauh ini, bagaimana hasil riset bioteknologi di Indonesia?
Kebutuhan akan pengembangan bioteknologi tidak bisa ditunda lagi. Sebab, berbagai permasalahan yang dihadapi dari tahun ke tahun semakin besar. Misalnya, jumlah penduduk yang memiliki kecenderungan meningkat. Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan pangan dan produk kesehatan pun bertambah. Saya rasa tidak bisa menunggu lama lagi. Jangan menunggu sampai sepuluh tahun lagi saat keadaan sudah mengkhawatirkan. Dalam 3-5 tahun ke depan, ini harus sudah ada hasilnya.
Pengembangan bioteknologi di Indonesia saat ini masih belum maksimal. Penelitian-penelitian belum ada follow up-nya untuk menghasilkan produk-produk bioteknologi. Penelitian tersebut masih sebatas activity oriented dan bukan product oriented. Memang, banyak yang melakukan penelitian, tapi harus ada hasilnya. Jangan hanya kulit-kulitnya. Saya akan terus berusaha membantu pemerintah menangani masalah kesehatan dengan terus mengembangkan bioteknologi. Saya akan terus berjuang.
(Kegigihannya dalam melakukan penelitian mengembangkan bioteknologi telah membuat Adi memperoleh penghargaan pada Juli lalu untuk kategori Penelitian Terbaik 2003-2005 dari LIPI. Karena prestasi itu pula, Adi dipercaya untuk mewakili kalangan masyarakat bioteknologi dalam pertemuan dengan Presiden AS George W. Bush, 20 November lalu di Istana Bogor)
Harapan Anda dalam penerapan riset bioteknologi di Indonesia?
Bioteknologi termasuk ilmu yang tergolong muda. Bioteknologi adalah ilmu yang terbuka. Tidak seperti ilmu nuklir yang pengembangannya secara rahasia. Artinya, terbuka luas untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu bioteknologi, setidaknya ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, sistem pendidikan yang bermutu untuk menciptakan individu-individu yang berkualitas. Kedua, dukungan yang penuh dari pemerintah. Ketiga, peneliti-peneliti yang berdedikasi.
Dari ketiga faktor itu, support pemerintah yang belum maksimal. Pemerintah seperti belum merasa perlu dengan kebutuhan penelitian bioteknologi dan penelitian lain pada umumnya. Hal itu tampak dari kecilnya anggaran di APBN yang dialokasikan untuk penelitian. Saat ini jumlahnya tidak mencapai satu persen. Padahal, idealnya 2 persen dari APBN yang digunakan untuk penelitian. Kemungkinan karena riset masih dianggap sebagai investasi yang membutuhkan waktu lama.
Kalau begitu, kendala utama ada di pemerintah?
Bukan hanya pemerintah. Kendala lain adalah minimnya literatur pendukung untuk pengembangan riset. Literatur yang dimiliki masih terbatas dan kurang memadai karena keterbatasan dana. Untuk mengatasi itu, seharusnya para peneliti bisa memanfaatkan literatur yang diakses dari internet.
Namun, kendala tersebut bukan alasan untuk tidak melanjutkan riset. Yang terpenting adalah semangat untuk bisa menghasilkan sesuatu untuk membantu sesama yang kurang beruntung. Kalau dana, saya kira bukan penghalang. Yang penting militansi kita untuk terus bekerja dan apa yang kita kerjakan ada hasilnya. Saya akan buat gebrakan lewat bioteknologi.
Sekarang saya bersama rekan-rekan di LIPI dan beberapa lembaga riset lain giat untuk mendidik peneliti-peneliti muda. Sebab, sejak terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia, intensitas pengiriman peneliti ke luar negeri cenderung berkurang.
Saya berharap, Indonesia bisa memiliki pusat penelitian dan pengembangan obat berbasis Indonesia hasil dari bioteknologi. Sekarang saya juga akan membangun laboratorium mikrobiologi dan botani yang menjadi cikal bakal kemajuan Indonesia dalam mengembangkan obat itu. Rencananya tahun depan. Kami dapat bantuan dari Jepang. (naufal widi a.r.*)
Idealnya, Dana Riset Dua Persen APBN
Hanya segelintir pakar sains dan teknologi di Indonesia yang menekuni ilmu bioteknologi. Salah seorang ilmuwan yang sedikit itu adalah Adi Santoso, kini bekerja di LIPI. Salah satu bukti kepakarannya, dia menjadi tamu diskusi Presiden AS George W. Bush saat berkunjung ke Bogor.
Apa yang Anda sampaikan saat berdiskusi dengan Bush?
Dalam pertemuan tersebut, saya menyampaikan pentingnya kebutuhan akan pengembangan bioteknologi. Saya waktu itu menyampaikan bioteknologi adalah masa depan umat manusia. Tidak hanya di Indonesia, namun telah menjadi kebutuhan seluruh dunia.
Yang Anda tawarkan kepada Presiden AS itu?
Begini, pengembangan bioteknologi belum merata di seluruh dunia. Masih banyak kendala yang dihadapi, terutama oleh negara-negara berkembang. Image yang terjadi, hasil penemuan ilmu bioteknologi milik perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju seperti Amerika. Hal itu disebabkan hasil penelitiannya yang kemudian dipatenkan sehingga kita tidak bisa menggunakan, kecuali dengan lisensi. Padahal, kita juga melakukan penelitian. Itu tidak fair. Hal itu tidak hanya pada perusahaan Amerika, namun juga beberapa perusahaan di Eropa.
Seharusnya negara-negara di dunia saling bekerja sama untuk pengembangan bioteknologi. Kepada Bush, saya mengharapkan ada kerja sama dalam hal riset collaboration. Bentuknya, antara lain, pertukaran peneliti, akses informasi untuk peneliti, dan scholarship.
Oh ya, bagaimana asal Anda masuk list tokoh yang bertemu dengan Bush?
Waktu itu saya diberi tahu Pak Umar (kepala LIPI Umar Anggara Jenie, Red) untuk bertemu dengan Bush. Saya juga di-SMS langsung oleh Pak Kusmayanto (Menristek, Red). Saya sangat kaget dengan undangan yang sangat mendadak itu.
Di Indonesia, riset bioteknologi itu belum terlalu banyak terdengar. Bagaimana sebenarnya?
Bioteknologi boleh jadi belum banyak diketahui masyarakat, terutama di Indonesia. Padahal, pemanfaatannya bisa menjadi salah satu solusi berbagai permasalahan sosial kemanusiaan yang saat ini banyak berkembang. Di antaranya masalah pangan, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa negara, seperti Korea Selatan, Kuba, dan Mesir, bahkan telah mampu menghasilkan produk-produk bioteknologi untuk mengatasi masalah tersebut.
Wajar saja jika bioteknologi belum banyak dikenal. Di Indonesia baru dimulai 1988-an. Waktu itu Pak Habibie (B.J. Habibie saat menjabat menteri riset dan teknologi/ketua BPPT) mengirimkan banyak peneliti ke luar negeri. Salah satu di antaranya saya. Saat itu Pak Habibie memiliki dua mimpi yang ingin dikembangkan, yaitu science dan teknologi.
Pengiriman tersebut dilakukan pada semua bidang ilmu dan ke banyak negara dengan program OFP (Overseas Fellowship Program). Dan, bioteknologi menjadi salah satu di antaranya karena waktu itu bioteknologi sedang dikembangkan menjadi genetic engineering.
Apa yang membuat Anda tertarik dengan ilmu ini?
Ini merupakan salah satu ilmu masa depan. Penemuan paling fenomenal adalah struktur DNA. Dengan bioteknologi, misalnya, kita bisa mengembangkan model baru obat-obatan. Dan, yang penting adalah bioteknologi bisa meningkatkan kualitas hidup manusia.
Bioteknologi juga berhasil membuka misteri kehidupan (open the secret of life). Bioteknologi membawa kita berpikir kehidupan pada tingkat yang lebih dalam, yaitu tingkat molekul.
Pengembangannya pun akan lebih variatif bila ditunjang dengan banyak sumber daya yang dimiliki. Karena itu, sekembali dari Amerika pada 2003, saya tetap berkecimpung dengan dunia penelitian bioteknologi di LIPI. Indonesia punya banyak sumber daya alam yang beragam. Biodiversitas itu yang harus kita manfaatkan untuk menghasilkan obat-obatan dengan basis Indonesia.
(Dengan bekal S-1 di Fakultas Ilmu Hewan Universitas Brawijaya Malang, Adi melanjutkan di North Dakota State University, Fargo, ND, dengan konsentrasi Animal Science, Department of Animal and Range Sciences. Pengetahuannya tentang bioteknologi pun bertambah dengan melanjutkan S-3 di Department of Biochemistry and Molecular Biology pada universitas yang sama.
Lama tinggal di AS membuat dia berpikir tentang kemanusiaan. Banyak problem yang sebenarnya dihadapi umat manusia. Berawal dari situlah, Adi melakukan banyak penelitian untuk mengembangkan bioteknologi. Adi yang bersama 10 orang dalam timnya sedang menyelesaikan pengembangan obat antianemia. Obat tersebut telah masuk pada tahap uji coba dan segera diajukan ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan).
Sejauh ini, bagaimana hasil riset bioteknologi di Indonesia?
Kebutuhan akan pengembangan bioteknologi tidak bisa ditunda lagi. Sebab, berbagai permasalahan yang dihadapi dari tahun ke tahun semakin besar. Misalnya, jumlah penduduk yang memiliki kecenderungan meningkat. Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan pangan dan produk kesehatan pun bertambah. Saya rasa tidak bisa menunggu lama lagi. Jangan menunggu sampai sepuluh tahun lagi saat keadaan sudah mengkhawatirkan. Dalam 3-5 tahun ke depan, ini harus sudah ada hasilnya.
Pengembangan bioteknologi di Indonesia saat ini masih belum maksimal. Penelitian-penelitian belum ada follow up-nya untuk menghasilkan produk-produk bioteknologi. Penelitian tersebut masih sebatas activity oriented dan bukan product oriented. Memang, banyak yang melakukan penelitian, tapi harus ada hasilnya. Jangan hanya kulit-kulitnya. Saya akan terus berusaha membantu pemerintah menangani masalah kesehatan dengan terus mengembangkan bioteknologi. Saya akan terus berjuang.
(Kegigihannya dalam melakukan penelitian mengembangkan bioteknologi telah membuat Adi memperoleh penghargaan pada Juli lalu untuk kategori Penelitian Terbaik 2003-2005 dari LIPI. Karena prestasi itu pula, Adi dipercaya untuk mewakili kalangan masyarakat bioteknologi dalam pertemuan dengan Presiden AS George W. Bush, 20 November lalu di Istana Bogor)
Harapan Anda dalam penerapan riset bioteknologi di Indonesia?
Bioteknologi termasuk ilmu yang tergolong muda. Bioteknologi adalah ilmu yang terbuka. Tidak seperti ilmu nuklir yang pengembangannya secara rahasia. Artinya, terbuka luas untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu bioteknologi, setidaknya ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, sistem pendidikan yang bermutu untuk menciptakan individu-individu yang berkualitas. Kedua, dukungan yang penuh dari pemerintah. Ketiga, peneliti-peneliti yang berdedikasi.
Dari ketiga faktor itu, support pemerintah yang belum maksimal. Pemerintah seperti belum merasa perlu dengan kebutuhan penelitian bioteknologi dan penelitian lain pada umumnya. Hal itu tampak dari kecilnya anggaran di APBN yang dialokasikan untuk penelitian. Saat ini jumlahnya tidak mencapai satu persen. Padahal, idealnya 2 persen dari APBN yang digunakan untuk penelitian. Kemungkinan karena riset masih dianggap sebagai investasi yang membutuhkan waktu lama.
Kalau begitu, kendala utama ada di pemerintah?
Bukan hanya pemerintah. Kendala lain adalah minimnya literatur pendukung untuk pengembangan riset. Literatur yang dimiliki masih terbatas dan kurang memadai karena keterbatasan dana. Untuk mengatasi itu, seharusnya para peneliti bisa memanfaatkan literatur yang diakses dari internet.
Namun, kendala tersebut bukan alasan untuk tidak melanjutkan riset. Yang terpenting adalah semangat untuk bisa menghasilkan sesuatu untuk membantu sesama yang kurang beruntung. Kalau dana, saya kira bukan penghalang. Yang penting militansi kita untuk terus bekerja dan apa yang kita kerjakan ada hasilnya. Saya akan buat gebrakan lewat bioteknologi.
Sekarang saya bersama rekan-rekan di LIPI dan beberapa lembaga riset lain giat untuk mendidik peneliti-peneliti muda. Sebab, sejak terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia, intensitas pengiriman peneliti ke luar negeri cenderung berkurang.
Saya berharap, Indonesia bisa memiliki pusat penelitian dan pengembangan obat berbasis Indonesia hasil dari bioteknologi. Sekarang saya juga akan membangun laboratorium mikrobiologi dan botani yang menjadi cikal bakal kemajuan Indonesia dalam mengembangkan obat itu. Rencananya tahun depan. Kami dapat bantuan dari Jepang. (naufal widi a.r.*)
Sumber : Jawa Pos
Tanggal 3 Desember 2006
No comments:
Post a Comment