Wednesday, March 10, 2010

berita bioteknologi


Jakarta (ANTARA) - Produk pertanian hasil rekayasa genetika (bioteknologi) asal aChina akan menjadi ancaman besar bagi pertanian Indonesia pascapemberlakukan perjanjian perdagangan bebas Asean-China (CAFTA) awal 2010.

Ketua Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI) Bambang Purwantara di Jakarta, Selasa, mengatakan, pada November 2009 China telah mengeluarkan sertifikat keamanan hayati (biosafety) untuk padi biotek tahan hama dan jagung biotek pitase.

Menurut dia, padi merupakan tanaman pangan paling penting secara global karena memberi makan setengah dari seluruh umat manusia, sementara jagung adalah tanaman pakan ternak paling penting di dunia.

"Setelah adanya perdagangan bebas Asean-China produk bioteknolo

gi China akan mudah masuk ke Indonesia, itu merupakan ancaman besar bagi pertanian Indonesia," katanya pada seminar bioteknologi tersebut.

Bambang mengatakan, China hanya salah satu dari 16 negara berkembang yang menanam tanaman biotek pada tahun 2009, di sisi lain pertumbuhan areal tanaman tersebut meningkat 13 persen atau 7 juta ha lebih tinggi dibanding di negara-negara maju yang hanya 3 persen atau 2 juta ha.

"Sebagai hasilnya hampir setengah atau 46 persen dari luasan global tanaman biotek ditanam di negara-negara berkembang dan dilakukan oleh sekitar 15 juta petani kecil," katanya.

Sementara itu Ketua Internasional Service for The Acquisition of Agri-biotech Application (ISAAA) Clive James mengatakan, ke depan Indonesia bersama Vietnam, Bangladesh dan Paksitan akan menjadi negara baru yang mengadopasi bioteknologi secara besar.

"Saat ini Pakistan sudah melakukan adopsi pengembangan bioteknologi pertanian tersebut," katanya.

Untuk melakukan adopsi pengembangan tanaman bioteknologi, menurut dia, tidak harus melakukan penemuan teknologi baru yang sudah ditemukan di laboratorium-laboratorium luar negeri.

Menurut dia, yang perlu dilakukan pemerintah yakni investasi sumberdaya manusia dan teknologi serta penguatan kapasitas kelembagaan.

Sementara itu menanggapi penilaian pemerintah terkesan lamban dalam mengembangkan bioteknologi di Indonesia, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Eri Sofiari menyatakan, pemerintah tidak pernah menghambat hal itu.

Dikatakannya, setelah ada Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tanaman transgenik atau bioteknologi maka pemerintah melakukan pendekatan kehati-hatian.

"Produk ini harus aman baik untuk produsen maupun konsumen sehingga pemerintah harus melindungi semua pihak," katanya.

Eri yang juga tenaga peneliti pada Badan Litbang Pertanian itu menegaskan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian tidak anti terhadap pengembangan bioteknologi apalagi hal itu terkait dengan ketahanan pangan nasional.

"Kalau sudah ada manfaat untuk petani dan untuk ketahanan pangan kita terbuka tapi harus mengikuti aturan main," katanya.

Menurut Bambang Purwanta, pembentukan Komisi Keamanan Hayati dan Keamaman Pangan sebagai amanat PP no 21/2005 perlu segera direalisasikan.

"Komisi yang aman menentukan `merah-hijaunya` aplikasi bioteknologi di Indonesia perlu dibentuk apabila kita tidak ingin menjadi tuan yang terasing di negeri sendiri," katanya.

Dampak implentasi CAFTA, lanjut Direktur SEAMEO BIOTROP itu akan dirasakan Indonesia karena China telah menempatkan bioteknologi pertanian sebagai ikon baru dalam sistem perdagangan teknologi.

Dikutip dari : http://id.news.yahoo.com/antr/20100302/tbs-produk-bioteknologi-china-ancam-indo-251e945.html

Sunday, November 9, 2008

INVESTIGATION OF FUNCTIONAL DIFFERENCE BETWEEN TecIII and TecIV IN MAMMALS COS-1 CELLS USING GFP FUSION PROTEINS

Signal transduction cascades are critical components of intra- and inter-cellular communication. Key component of such cascades includes tyrosine kinases. One such family of tyrosine kinases is the Tec family of tyrosine kinases. This family of tyrosine kinases is expressed mainly in cells of the hematopoietic lineage, and mutations in at least one of its one member of this family, Btk, has so far been associated with the human immunodeficiency disorder X-Linked Agammaglobulinemia. Two major isoforms of the Tec transcript, referred to as TecIII and TecIV, have been detected in various mouse embryonic and adult tissues, as well as in a number of different hematopoietic cell lines: Tec IV is the full length Tec protein with functional PH, TH, SH3, SH2 and Kinase domains, while TecIII is generated by the splicing out of exon 8 sequences to yield a shorter peptide with a non-functional SH3 domain. Using GFP-TecIII fusion proteins, this shorter isoform of Tec was shown to have biological characteristics that differed from TecIV.
Ines Atmosukarto1 and Grant W. Booker2
Sumber : Annales Bogorienses Vol.10 No.1, 2005

complete email at: shermanlove@gmail.com

Vitamin dan asal usulnya

Sebelum ilmu pengetahuan, terutama biokimia, berkembang sedemikian pesat seperti sekarang, banyak peneliti dahulu menduga bahwa zat makanan yang sangat fundamental bagi kehidupan adalah: air, protein, karbohidrat, lemak, dan mineral makro. Dengan semakin berkembangnya ilmu biokimia terungkaplah bahwa pentingnya suatu zat makanan tidak tergantung pada jumlah yang harus di konsumsi. Salah satu contoh zat makanan yang sangat fundamental dalam kehidupan dan dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil adalah vitamin. Pengetahuan tentang vitamin seperti yang kita ketahui sekarang adalah hasil kerja keras banyak peneliti yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Uniknya kota Jakarta yang dulu bernama Batavia juga pernah menjadi tempat penelitian vitamin yang menjadi rujukan dunia. Sejarah penemuan vitamin sangat menarik untuk disimak dalam hal bagaimana hasil penemuan terdahulu di koreksi oleh hasil penelitian yang lebih baru, sampai pada ahirnya sekarang kita bisa mengetahui sifat-sifat kimia dan mekanismenya didalam tubuh. Kita sekarang bahkan bisa mengetahui jumlah minimum yang harus di konsumsi untuk menunjang pertumbuhan yang sehat. Sampai dengan tahun 1900 an banyak sekali penyakit-penyakit aneh yang sering ditemukan dan sama sekali tidak diketahui penyebabnya, misal: para pelaut yang mengalami pendarahan pada gerahamnya. Cerita ini sangat menarik karena 200 tahun sebelumnya, sekitar tahun 1700 an, penyakit semacam ini sudah diketahui bias disembuhkan hanya dengan memakan buah jeruk, demikian kata Profesor Szent-Gyorgyi seorang ahli biokimia dari Hungaria yang mendapat penghargaan Noble pada tahun 1937 tentang vitamin C. Figur lain yang sangat dominant di dunia mengenai vitamin C adalah Profesor Linus Pauling dari California Institute of Technology, USA dimana dengan nada yang sampai saat ini dianggap controversial adalah bahwa dia berpendapat vitamin C dosis tinggi dapat mencegah penyakit kanker. Linus Pauling juga mendapat penghargaan Noble dari hasil risetnya yang sangat besar kontribusinya pada dunia kimia mengenai sifat-sifat dan struktur ikatan kimia suatu molekul. Sedangkan di Indonesia, tepatnya di Batavia (Jakarta), seorang dokter ternama dari Belanda, C. Eijkman yang tertarik pada penyakitpenyakit daerah tropis menemukan bahwa anak ayam yang diberi makan beras yang telah di cuci dengan bersih akan membuat anak ayam tersebut lumpuh dan pada manusia dapat menyebabkan penyakit beri-beri. Dan apabila anak ayam ini diberi minum air sisa mencuci beras penyakitnya sembuh. Dr. Eijkman mengira bahwa air beras tersebut mengandung sejenis racun yang dapat menetralisir penyakit kelumpuhan pada anak ayam tersebut. Menariknya, sejak ribuan tahun yang lalu di China penyakit semacam ini bisa disembuhkan hanya dengan meminum sejenis teh yang terbuat dari beras. Atas keberhasilannya dalam penelitian vitamin B, Dr. C. Eijkman dianugerahi hadiah Noble pada tahun 1929. Di Inggris, profesor Hopkins tahun 1914, melaporkan bahwa suatu zat yang di ekstrak dari air susu sangat esensial sekali untuk pertumbuhan yang normal anak tikus. Sedangkan di Amerika Serikat, tepatnya di University of Wisconsin, Dr. Mc Collum dan Dr. Davismenemukan bahwa pertumbuhan yang normal pada anak tikus membutuhkan dua zat, yaitu: zat yang diekstrak dari air susu dan zat yang berasal dari beras. Mereka memberi nama ekstrak dari air susuini “Faktor A”, sedangkan ekstrak dari beras diberi nama “Faktor B”.Penemuan yang kelihatannya sangat sederhana ini ternyata memberikan inspirasi yang sangat luar biasa pada dunia ilmu pengetahuan modern dimana “faktor A” menjadi vitamin A yang larut dalam lemak (air susu) dan “faktor B” menjadi vitamin B yang larutdalam air (air beras). Profesor Hopkins ahirnya pada tahun 1929 mendapat penghargaan Noble dari hasil penelitiannya.Berdasarkan pada beberapa penemuan diatas seorang ahlibiokimia dari Polandia, Profesor Casimir Funk, mencoba untuk menerangkan fenomena tentang vitamin yang dikenal pada saat itu dengan “vitamine theory”. Profesor Funk memprediksi bahwa zat kimia yang esensial untuk pertumbuhan yang terkandung dalam makanan yang sekarang kita sebut vitamin adalah suatu “amine”.Sehingga pada saat itu nama vitamin adalah “vitamine”. Tetapi setelah melalui riset yang panjang ternyata diketahui bahwa vitamin A tidak mempunyai gugus “amine” maka nama “vitamine” (berahiran “e”) menjadi hanya “vitamin” (huruf “e” di hilangkan). Penelitian tentang vitamin tergolong sangat lambat pada waktu itu karena kurangnya perhatian dunia kedokteran pada “zat pertumbuhan” ini. Hal ini disebabkan dunia kedokteran pada saat itu lebih tertarik pada penyakit yang disebabkan oleh infeksi. Figur Louis Pasteur yang sangat dominan bahkan pernah berpendapat bahwa suatu penyakit selalu disebabkan oleh infeksi. Tetapi setelah ditemukannya vitamin B yang kemudian diikuti oleh berhasilnya Profesor Williams pada tahun 1933 dalam membuat kristal vitamin B dari beras maka riset mengenai vitamin menjadi lebih terfokus dan cepat. Penemuan vitamin A dan B kemudian diikuti dengan riset pada faktor lain yang dapat menyembuhkan pendarahan pada geraham yang diberi nama vitamin C (asam askorbat). vitamin D yang esensial untuk proses pembentukan tulang ditemukan pada tahun 1933 yang kemudian diikuti oleh vitamin E yang pertama kali berhasil di isolasi pada tahun 1936 dan berfungsi pada proses kehamilan. Sedangkan yang terahir adalah vitamin K yang ditemukan pada tahun 1939 yang berfungsi untuk proses pembekuan pada darah. Apakah semua vitamin yang ada di alam ini sudah ditemukan? Apa ada vitamin baru yang menunggu untuk ditemukan? Pertanyaan semacam ini tentunya sangat sulit untuk dijawab. Tetapi yang jelas riset dengan menggunakan hewan percobaan menunjukkan bahwa hewan-hewan percobaan dapat tumbuh dengan normal dengan hanya menggunakan makanan dasar dan menambahkan semua vitamin tersebut diatas. Apa ini berarti semua vitamin sudah ditemukan? Tidak ada istilah yang pasti dalam ilmu pengetahuan. Sebuah penemuan baru akan selalu diikuti oleh penemuan baru lainnya. Sebuah teori dalam sains akan di uji kebenarannya dengan teori yang lebih baru. Dalam hal vitamin tentunya lebih bijaksana kalau kita berpendapat bahwa selalu ada kemungkinan zat lain yang menunggu untuk ditemukan yang diharapkan dapat membuat kehidupan kita bisa lebih sehat dan bijaksana lagi.

penulis : Adi Santoso
sumber dari majalah Biotrends Vol.1 No. Tahun 2005

Sunday, March 4, 2007

Adi Santoso; Ilmuwan Bioteknologi yang Peserta Diskusi dengan Bush

Adi Santoso; Ilmuwan Bioteknologi yang Peserta Diskusi dengan Bush

Idealnya, Dana Riset Dua Persen APBN
Hanya segelintir pakar sains dan teknologi di Indonesia yang menekuni ilmu bioteknologi. Salah seorang ilmuwan yang sedikit itu adalah Adi Santoso, kini bekerja di LIPI. Salah satu bukti kepakarannya, dia menjadi tamu diskusi Presiden AS George W. Bush saat berkunjung ke Bogor.
Apa yang Anda sampaikan saat berdiskusi dengan Bush?
Dalam pertemuan tersebut, saya menyampaikan pentingnya kebutuhan akan pengembangan bioteknologi. Saya waktu itu menyampaikan bioteknologi adalah masa depan umat manusia. Tidak hanya di Indonesia, namun telah menjadi kebutuhan seluruh dunia.
Yang Anda tawarkan kepada Presiden AS itu?
Begini, pengembangan bioteknologi belum merata di seluruh dunia. Masih banyak kendala yang dihadapi, terutama oleh negara-negara berkembang. Image yang terjadi, hasil penemuan ilmu bioteknologi milik perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju seperti Amerika. Hal itu disebabkan hasil penelitiannya yang kemudian dipatenkan sehingga kita tidak bisa menggunakan, kecuali dengan lisensi. Padahal, kita juga melakukan penelitian. Itu tidak fair. Hal itu tidak hanya pada perusahaan Amerika, namun juga beberapa perusahaan di Eropa.
Seharusnya negara-negara di dunia saling bekerja sama untuk pengembangan bioteknologi. Kepada Bush, saya mengharapkan ada kerja sama dalam hal riset collaboration. Bentuknya, antara lain, pertukaran peneliti, akses informasi untuk peneliti, dan scholarship.
Oh ya, bagaimana asal Anda masuk list tokoh yang bertemu dengan Bush?
Waktu itu saya diberi tahu Pak Umar (kepala LIPI Umar Anggara Jenie, Red) untuk bertemu dengan Bush. Saya juga di-SMS langsung oleh Pak Kusmayanto (Menristek, Red). Saya sangat kaget dengan undangan yang sangat mendadak itu.
Di Indonesia, riset bioteknologi itu belum terlalu banyak terdengar. Bagaimana sebenarnya?
Bioteknologi boleh jadi belum banyak diketahui masyarakat, terutama di Indonesia. Padahal, pemanfaatannya bisa menjadi salah satu solusi berbagai permasalahan sosial kemanusiaan yang saat ini banyak berkembang. Di antaranya masalah pangan, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa negara, seperti Korea Selatan, Kuba, dan Mesir, bahkan telah mampu menghasilkan produk-produk bioteknologi untuk mengatasi masalah tersebut.
Wajar saja jika bioteknologi belum banyak dikenal. Di Indonesia baru dimulai 1988-an. Waktu itu Pak Habibie (B.J. Habibie saat menjabat menteri riset dan teknologi/ketua BPPT) mengirimkan banyak peneliti ke luar negeri. Salah satu di antaranya saya. Saat itu Pak Habibie memiliki dua mimpi yang ingin dikembangkan, yaitu science dan teknologi.
Pengiriman tersebut dilakukan pada semua bidang ilmu dan ke banyak negara dengan program OFP (Overseas Fellowship Program). Dan, bioteknologi menjadi salah satu di antaranya karena waktu itu bioteknologi sedang dikembangkan menjadi genetic engineering.
Apa yang membuat Anda tertarik dengan ilmu ini?
Ini merupakan salah satu ilmu masa depan. Penemuan paling fenomenal adalah struktur DNA. Dengan bioteknologi, misalnya, kita bisa mengembangkan model baru obat-obatan. Dan, yang penting adalah bioteknologi bisa meningkatkan kualitas hidup manusia.
Bioteknologi juga berhasil membuka misteri kehidupan (open the secret of life). Bioteknologi membawa kita berpikir kehidupan pada tingkat yang lebih dalam, yaitu tingkat molekul.
Pengembangannya pun akan lebih variatif bila ditunjang dengan banyak sumber daya yang dimiliki. Karena itu, sekembali dari Amerika pada 2003, saya tetap berkecimpung dengan dunia penelitian bioteknologi di LIPI. Indonesia punya banyak sumber daya alam yang beragam. Biodiversitas itu yang harus kita manfaatkan untuk menghasilkan obat-obatan dengan basis Indonesia.
(Dengan bekal S-1 di Fakultas Ilmu Hewan Universitas Brawijaya Malang, Adi melanjutkan di North Dakota State University, Fargo, ND, dengan konsentrasi Animal Science, Department of Animal and Range Sciences. Pengetahuannya tentang bioteknologi pun bertambah dengan melanjutkan S-3 di Department of Biochemistry and Molecular Biology pada universitas yang sama.
Lama tinggal di AS membuat dia berpikir tentang kemanusiaan. Banyak problem yang sebenarnya dihadapi umat manusia. Berawal dari situlah, Adi melakukan banyak penelitian untuk mengembangkan bioteknologi. Adi yang bersama 10 orang dalam timnya sedang menyelesaikan pengembangan obat antianemia. Obat tersebut telah masuk pada tahap uji coba dan segera diajukan ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan).
Sejauh ini, bagaimana hasil riset bioteknologi di Indonesia?
Kebutuhan akan pengembangan bioteknologi tidak bisa ditunda lagi. Sebab, berbagai permasalahan yang dihadapi dari tahun ke tahun semakin besar. Misalnya, jumlah penduduk yang memiliki kecenderungan meningkat. Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan pangan dan produk kesehatan pun bertambah. Saya rasa tidak bisa menunggu lama lagi. Jangan menunggu sampai sepuluh tahun lagi saat keadaan sudah mengkhawatirkan. Dalam 3-5 tahun ke depan, ini harus sudah ada hasilnya.
Pengembangan bioteknologi di Indonesia saat ini masih belum maksimal. Penelitian-penelitian belum ada follow up-nya untuk menghasilkan produk-produk bioteknologi. Penelitian tersebut masih sebatas activity oriented dan bukan product oriented. Memang, banyak yang melakukan penelitian, tapi harus ada hasilnya. Jangan hanya kulit-kulitnya. Saya akan terus berusaha membantu pemerintah menangani masalah kesehatan dengan terus mengembangkan bioteknologi. Saya akan terus berjuang.
(Kegigihannya dalam melakukan penelitian mengembangkan bioteknologi telah membuat Adi memperoleh penghargaan pada Juli lalu untuk kategori Penelitian Terbaik 2003-2005 dari LIPI. Karena prestasi itu pula, Adi dipercaya untuk mewakili kalangan masyarakat bioteknologi dalam pertemuan dengan Presiden AS George W. Bush, 20 November lalu di Istana Bogor)
Harapan Anda dalam penerapan riset bioteknologi di Indonesia?
Bioteknologi termasuk ilmu yang tergolong muda. Bioteknologi adalah ilmu yang terbuka. Tidak seperti ilmu nuklir yang pengembangannya secara rahasia. Artinya, terbuka luas untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu bioteknologi, setidaknya ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, sistem pendidikan yang bermutu untuk menciptakan individu-individu yang berkualitas. Kedua, dukungan yang penuh dari pemerintah. Ketiga, peneliti-peneliti yang berdedikasi.
Dari ketiga faktor itu, support pemerintah yang belum maksimal. Pemerintah seperti belum merasa perlu dengan kebutuhan penelitian bioteknologi dan penelitian lain pada umumnya. Hal itu tampak dari kecilnya anggaran di APBN yang dialokasikan untuk penelitian. Saat ini jumlahnya tidak mencapai satu persen. Padahal, idealnya 2 persen dari APBN yang digunakan untuk penelitian. Kemungkinan karena riset masih dianggap sebagai investasi yang membutuhkan waktu lama.
Kalau begitu, kendala utama ada di pemerintah?
Bukan hanya pemerintah. Kendala lain adalah minimnya literatur pendukung untuk pengembangan riset. Literatur yang dimiliki masih terbatas dan kurang memadai karena keterbatasan dana. Untuk mengatasi itu, seharusnya para peneliti bisa memanfaatkan literatur yang diakses dari internet.
Namun, kendala tersebut bukan alasan untuk tidak melanjutkan riset. Yang terpenting adalah semangat untuk bisa menghasilkan sesuatu untuk membantu sesama yang kurang beruntung. Kalau dana, saya kira bukan penghalang. Yang penting militansi kita untuk terus bekerja dan apa yang kita kerjakan ada hasilnya. Saya akan buat gebrakan lewat bioteknologi.
Sekarang saya bersama rekan-rekan di LIPI dan beberapa lembaga riset lain giat untuk mendidik peneliti-peneliti muda. Sebab, sejak terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia, intensitas pengiriman peneliti ke luar negeri cenderung berkurang.
Saya berharap, Indonesia bisa memiliki pusat penelitian dan pengembangan obat berbasis Indonesia hasil dari bioteknologi. Sekarang saya juga akan membangun laboratorium mikrobiologi dan botani yang menjadi cikal bakal kemajuan Indonesia dalam mengembangkan obat itu. Rencananya tahun depan. Kami dapat bantuan dari Jepang. (naufal widi a.r.*)

Sumber : Jawa Pos
Tanggal 3 Desember 2006

Pandemi Virus Flu Burung H5N1

Oleh Andi Utama
Wabah virus flu burung H5N1 kembali terjadi di Indonesia. Beberapa kasus, baik dugaan (suspect) maupun yang telah dikonfirmasi (confirmed) telah dilaporkan. Menurut data WHO per 15 Januari 2007, tahun ini di Indonesia telah terjadi 4 kasus dan 3 di antaranya meninggal dunia (www.who.int) . Dari data yang sama, ditemukan kasus akumulatif di Indonesia, berjumlah 79 dan 61 di antaranya meninggal dunia. Jika dilihat dari jumlah kasus yang meninggal, Indonesia adalah peringkat pertama setelah Vietnam, dengan 42 angka kematian.Namun, berbeda dengan di Indonesia, sejauh ini tidak ada laporan dari Vietnam dan negara Asia Tenggara lain bahwa sebelumnya virus H5N1 juga mewabah. Bahkan, di Vietnam, yang merupakan negara dengan kasus akumulatif terbanyak (93 kasus dan 42 di antaranya meninggal dunia), sejak 2006 sampai saat ini, belum ada laporan tentang kasus H5N1 pada manusia. Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin kita harus belajar cara penanggulangan yang dilakukan di Vietnam.Pandemi Flu BurungApakah kembalinya wabah virus flu burung H5N1 di Indonesia merupakan petanda mulainya pandemi? Sedikitnya, ada tiga hal yang membuat pandemi flu burung bisa terjadi. Pertama adalah kemampuan virus H5N1 untuk menginfeksi manusia. Virus H5N1 adalah virus flu burung, yang mulanya hanya bisa menginfeksi jenis burung. Virus ini kemudian bermutasi sehingga berubah menjadi virus yang bisa menginfeksi manusia. Kedua yang menunjang terjadinya pandemi adalah tidak adanya kekebalan manusia terhadap virus H5N1. Karena sebelumnya manusia belum pernah terekspos virus itu, hampir semua manusia tidak memiliki antibodi yang bisa menetralkan virus H5N1 sehingga virus dengan leluasa menginfeksi sel-sel manusia dan merusaknya. Dengan demikian, infeksi virus tersebut akan menimbulkan efek fatal terhadap manusia yang terinfeksi. Ketiga adalah sifat patogen virus H5N1 yang tinggi. Berdasar data WHO, secara global telah terjadi 267 kasus H5N1 pada manusia dan 161 diantaranya meninggal dunia (www.who.int) . Jika dihitung, tingkat kefatalan/mortalita s dari virus ini adalah 60 persen. Khusus untuk Indonesia, tingkat kefatalan malah lebih tinggi, yaitu 77 persen (61/79). Angka ini jauh lebih tinggi daripada tingkat kefatalan virus SARS, virus yang kita takuti dan mewabah di berbagai penjuru dunia beberapa tahun lalu dengan tingkat kefatalan sekitar 10 persen.Faktor lain yang menjadi kunci terjadinya pandemi adalah kemampuan virus untuk menular dari manusia ke manusia. Walaupun sampai saat ini belum terbukti adanya penularan antarmanusia, beberapa kasus menunjukkan indikasi penularan dari manusia ke manusia. Salah satu hasil riset dengan mengambil sampel satu keluarga di Thailand telah membuktikan kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia di dalam satu keluarga (Ungchusak et al, 2005). Riset tersebut menujukkan bahwa ibu dan bibi perawat anak yang terinfeksi H5N1 juga terinfeksi oleh virus H5N1. Sang ibu bahkan sampai meninggal dunia. Dari hasil Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) organ nasopharynx dan throat swab (tenggorokan) sang ibu ditemukan virus H5N1. Baik sang ibu maupun bibi tidak pernah kontak dengan burung. Bahkan, sang ibu datang dari tempat jauh yang bukan endemi flu burung dan hanya datang untuk merawat anaknya yang menderita infeksi H5N1. Begitu juga di Indonesia, ditengarai ada beberapa kluster H5N1I dalam keluarga.Karena itu, kita perlu tetap waspada karena untuk bisa menular antarmanusia, virus H5N1 mungkin hanya memerlukan mutasi tunggal pada genomnya. Perlu diakui bahwa dunia belum siap menghadapi pandemi flu burung H5N1. Alasannya bukan hanya karena kekurangan vaksin, tetapi juga sistem pengawasan kesehatan secara keseluruhan.Pandemi 1918Para ahli influenza memperingatkan bahwa secara histori, pandemi influenza terjadi setiap 11 sampai 42 tahun. Pandemi influenza terburuk sepanjang sejarah adalah "Spanish Flu" (H1N1) yang terjadi pada 1918-1919. Pandemi yang terakhir adalah "Hongkong Flu" (H3N2) yang terjadi pada 1968-1969. Pertanyaannya apakah H5N1 akan menjadi pandemi berikutnya? Kemampuan virus untuk menular antarmanusia adalah kunci untuk terjadinya pandemi flu H5N1. Berubah karakter supaya bisa menular antarmanusia bisa terjadi dengan dua cara. Pertama, melalui mutasi, seperti yang terjadi pada virus penyebab "Spanish Flu". Kedua, melalui rekombinasi (reassortment) antara virus influenza burung dengan influenza manusia, seperti yang terjadi pada kasus "Hongkong Flu" tahun 1968. Analisis menunjukkan bahwa virus H5N1 masih virus flu burung (avian influenza). Banyak ahli yang berpendapat bahwa perubahan genetika yang memfasilitasi penularan antarmanusia tidak terjadi pada H5N1. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa dalam waktu hampir 10 tahun, sejak menginfeksi manusia pada 1997 sampai sekarang, virus H5N1 belum berubah menjadi virus yang bisa menular antarmanusia. Jika dugaan mereka benar, virus H5N1 terutama patogen terhadap burung dan secara kebetulan menginfeksi manusia yang mempunyai kontak langsung dengan burung yang terinfeksi.Apakah kita percaya dengan skenario yang optimistis itu? Ini adalah hal yang susah diperhitungkan sehingga orang umumnya berpendapat bahwa kita harus siap untuk skenario yang terburuk. Pengalaman pandemi flu pada 1918 bisa dijadikan dasar untuk persiapan pandemi H5N1. Hal itu disebabkan kemiripan kedua virus tersebut. Galur virus "Spanish Flu" memiliki 3 gelombang dan mengakibatkan kematian sekitar 50 juta jiwa, termasuk 675 ribu jiwa di AS. Satu karakter yang tidak umum pada virus ini adalah tingkat kematian tinggi pada umur 15-35. Kasus influenza di AS umumnya menyerang lansia yang berumur lebih dari 85 tahun. Fenomena itu mirip dengan infeksi H5N1 pada manusia yang terjadi saat ini. Kebanyakan pasien masih muda atau anak-anak. Analisis genetika menunjukan bahwa baik virus H1N1 yang mewabah pada 1918 maupun virus H5N1 masih memiliki gen virus flu burung (avian influenza), bukan virus flu manusia (human influenza).Apa yang bisa dilakukan?Di samping intervensi untuk mengurangi jumlah burung yang terinfeksi, ada tiga senjata utama untuk pengontrolan penyebaran virus antarmanusia, yaitu vaksin, obat antivirus, dan isolasi pasien dari komunitas (Bartlett, 2006). Senjata pertama (vaksin) sulit diterapkan karena kita belum siap dengan vaksin H5N1. Hal ini disebabkan produksi vaksin H5N1 saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan dunia. Kemampuan produksi vaksin global per tahun adalah sekitar 1 miliar dosis dengan kandungan 15 mikrogram antigen. Karena itu, kita tidak bisa berharap banyak. Apalagi Indonesia, sebagai negara ketiga, bisa dipastikan tidak akan mendapatkan prioritas untuk memperoleh vaksin. Senjata kedua, berupa obat antivirus, sangat memungkinkan untuk dilakukan. Walaupun membutuhkan dana yang cukup besar, jika ada perhatian dari pemerintah, masih mungkin cara itu dilakukan. Oseltamivir yang merupakan komponen dari Tamiflu terbukti efektif terhadap influenza, termasuk H5N1. Saat ini, kita telah mengimpor Tamiflu, bahkan perusahaan dalam negri telah mendapatkan izin untuk produksi Tamiflu. Apalagi obat ini dapat disimpan sampai 10 tahun sehingga kita bisa mempersiapkan saat ini untuk persediaan sampai tahun 2017. Strategi yang ketiga adalah isolasi pasien. Menurut suatu model pandemik 1918, 1/3 dari penularan terjadi dalam keluarga, 1/3 terjadi pada tempat kerja atau sekolah, dan 1/3 terjadi di komunitas umum (Ferguson et al, 2006). Karena itu, jika ditemukan kasus, pemisahan pasien perlu segera dilakukan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.Andi Utama PhD, virolog pada Puslit Bioteknologi- LIPI

Sumber : http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=267103