Signal transduction cascades are critical components of intra- and inter-cellular communication. Key component of such cascades includes tyrosine kinases. One such family of tyrosine kinases is the Tec family of tyrosine kinases. This family of tyrosine kinases is expressed mainly in cells of the hematopoietic lineage, and mutations in at least one of its one member of this family, Btk, has so far been associated with the human immunodeficiency disorder X-Linked Agammaglobulinemia. Two major isoforms of the Tec transcript, referred to as TecIII and TecIV, have been detected in various mouse embryonic and adult tissues, as well as in a number of different hematopoietic cell lines: Tec IV is the full length Tec protein with functional PH, TH, SH3, SH2 and Kinase domains, while TecIII is generated by the splicing out of exon 8 sequences to yield a shorter peptide with a non-functional SH3 domain. Using GFP-TecIII fusion proteins, this shorter isoform of Tec was shown to have biological characteristics that differed from TecIV.
Ines Atmosukarto1 and Grant W. Booker2
Sumber : Annales Bogorienses Vol.10 No.1, 2005
complete email at: shermanlove@gmail.com
Sunday, November 9, 2008
Vitamin dan asal usulnya
Sebelum ilmu pengetahuan, terutama biokimia, berkembang sedemikian pesat seperti sekarang, banyak peneliti dahulu menduga bahwa zat makanan yang sangat fundamental bagi kehidupan adalah: air, protein, karbohidrat, lemak, dan mineral makro. Dengan semakin berkembangnya ilmu biokimia terungkaplah bahwa pentingnya suatu zat makanan tidak tergantung pada jumlah yang harus di konsumsi. Salah satu contoh zat makanan yang sangat fundamental dalam kehidupan dan dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil adalah vitamin. Pengetahuan tentang vitamin seperti yang kita ketahui sekarang adalah hasil kerja keras banyak peneliti yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Uniknya kota Jakarta yang dulu bernama Batavia juga pernah menjadi tempat penelitian vitamin yang menjadi rujukan dunia. Sejarah penemuan vitamin sangat menarik untuk disimak dalam hal bagaimana hasil penemuan terdahulu di koreksi oleh hasil penelitian yang lebih baru, sampai pada ahirnya sekarang kita bisa mengetahui sifat-sifat kimia dan mekanismenya didalam tubuh. Kita sekarang bahkan bisa mengetahui jumlah minimum yang harus di konsumsi untuk menunjang pertumbuhan yang sehat. Sampai dengan tahun 1900 an banyak sekali penyakit-penyakit aneh yang sering ditemukan dan sama sekali tidak diketahui penyebabnya, misal: para pelaut yang mengalami pendarahan pada gerahamnya. Cerita ini sangat menarik karena 200 tahun sebelumnya, sekitar tahun 1700 an, penyakit semacam ini sudah diketahui bias disembuhkan hanya dengan memakan buah jeruk, demikian kata Profesor Szent-Gyorgyi seorang ahli biokimia dari Hungaria yang mendapat penghargaan Noble pada tahun 1937 tentang vitamin C. Figur lain yang sangat dominant di dunia mengenai vitamin C adalah Profesor Linus Pauling dari California Institute of Technology, USA dimana dengan nada yang sampai saat ini dianggap controversial adalah bahwa dia berpendapat vitamin C dosis tinggi dapat mencegah penyakit kanker. Linus Pauling juga mendapat penghargaan Noble dari hasil risetnya yang sangat besar kontribusinya pada dunia kimia mengenai sifat-sifat dan struktur ikatan kimia suatu molekul. Sedangkan di Indonesia, tepatnya di Batavia (Jakarta), seorang dokter ternama dari Belanda, C. Eijkman yang tertarik pada penyakitpenyakit daerah tropis menemukan bahwa anak ayam yang diberi makan beras yang telah di cuci dengan bersih akan membuat anak ayam tersebut lumpuh dan pada manusia dapat menyebabkan penyakit beri-beri. Dan apabila anak ayam ini diberi minum air sisa mencuci beras penyakitnya sembuh. Dr. Eijkman mengira bahwa air beras tersebut mengandung sejenis racun yang dapat menetralisir penyakit kelumpuhan pada anak ayam tersebut. Menariknya, sejak ribuan tahun yang lalu di China penyakit semacam ini bisa disembuhkan hanya dengan meminum sejenis teh yang terbuat dari beras. Atas keberhasilannya dalam penelitian vitamin B, Dr. C. Eijkman dianugerahi hadiah Noble pada tahun 1929. Di Inggris, profesor Hopkins tahun 1914, melaporkan bahwa suatu zat yang di ekstrak dari air susu sangat esensial sekali untuk pertumbuhan yang normal anak tikus. Sedangkan di Amerika Serikat, tepatnya di University of Wisconsin, Dr. Mc Collum dan Dr. Davismenemukan bahwa pertumbuhan yang normal pada anak tikus membutuhkan dua zat, yaitu: zat yang diekstrak dari air susu dan zat yang berasal dari beras. Mereka memberi nama ekstrak dari air susuini “Faktor A”, sedangkan ekstrak dari beras diberi nama “Faktor B”.Penemuan yang kelihatannya sangat sederhana ini ternyata memberikan inspirasi yang sangat luar biasa pada dunia ilmu pengetahuan modern dimana “faktor A” menjadi vitamin A yang larut dalam lemak (air susu) dan “faktor B” menjadi vitamin B yang larutdalam air (air beras). Profesor Hopkins ahirnya pada tahun 1929 mendapat penghargaan Noble dari hasil penelitiannya.Berdasarkan pada beberapa penemuan diatas seorang ahlibiokimia dari Polandia, Profesor Casimir Funk, mencoba untuk menerangkan fenomena tentang vitamin yang dikenal pada saat itu dengan “vitamine theory”. Profesor Funk memprediksi bahwa zat kimia yang esensial untuk pertumbuhan yang terkandung dalam makanan yang sekarang kita sebut vitamin adalah suatu “amine”.Sehingga pada saat itu nama vitamin adalah “vitamine”. Tetapi setelah melalui riset yang panjang ternyata diketahui bahwa vitamin A tidak mempunyai gugus “amine” maka nama “vitamine” (berahiran “e”) menjadi hanya “vitamin” (huruf “e” di hilangkan). Penelitian tentang vitamin tergolong sangat lambat pada waktu itu karena kurangnya perhatian dunia kedokteran pada “zat pertumbuhan” ini. Hal ini disebabkan dunia kedokteran pada saat itu lebih tertarik pada penyakit yang disebabkan oleh infeksi. Figur Louis Pasteur yang sangat dominan bahkan pernah berpendapat bahwa suatu penyakit selalu disebabkan oleh infeksi. Tetapi setelah ditemukannya vitamin B yang kemudian diikuti oleh berhasilnya Profesor Williams pada tahun 1933 dalam membuat kristal vitamin B dari beras maka riset mengenai vitamin menjadi lebih terfokus dan cepat. Penemuan vitamin A dan B kemudian diikuti dengan riset pada faktor lain yang dapat menyembuhkan pendarahan pada geraham yang diberi nama vitamin C (asam askorbat). vitamin D yang esensial untuk proses pembentukan tulang ditemukan pada tahun 1933 yang kemudian diikuti oleh vitamin E yang pertama kali berhasil di isolasi pada tahun 1936 dan berfungsi pada proses kehamilan. Sedangkan yang terahir adalah vitamin K yang ditemukan pada tahun 1939 yang berfungsi untuk proses pembekuan pada darah. Apakah semua vitamin yang ada di alam ini sudah ditemukan? Apa ada vitamin baru yang menunggu untuk ditemukan? Pertanyaan semacam ini tentunya sangat sulit untuk dijawab. Tetapi yang jelas riset dengan menggunakan hewan percobaan menunjukkan bahwa hewan-hewan percobaan dapat tumbuh dengan normal dengan hanya menggunakan makanan dasar dan menambahkan semua vitamin tersebut diatas. Apa ini berarti semua vitamin sudah ditemukan? Tidak ada istilah yang pasti dalam ilmu pengetahuan. Sebuah penemuan baru akan selalu diikuti oleh penemuan baru lainnya. Sebuah teori dalam sains akan di uji kebenarannya dengan teori yang lebih baru. Dalam hal vitamin tentunya lebih bijaksana kalau kita berpendapat bahwa selalu ada kemungkinan zat lain yang menunggu untuk ditemukan yang diharapkan dapat membuat kehidupan kita bisa lebih sehat dan bijaksana lagi.
penulis : Adi Santoso
sumber dari majalah Biotrends Vol.1 No. Tahun 2005
Label:
biokimia,
biology,
biotechnology,
biotrends,
vitamin
Subscribe to:
Comments (Atom)